Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck yang menginspirasi

Dalam novel ini, penulis menyuguhkan pembaca tentang wawasan dan pengetahuan mengenai adat istiadat suku Minang dan Bugis. Yang menjadi benang merah permasalahan utama kisah cinta Zainudin dan Hayati. Sebuah karya seni tidak hanya dapat dinilai sebagai sebuah karya yang hanya bicara soal keindahan. Namun seni juga dapat dijadikan sebagai media untuk melakukan sebuah kritik sosial. Salah satu karya seni tersebut dapat berupa karya sastra. Sebuah karya sastra merupakan cara yang tepat untuk menyampaikan kritik sosial. Terhadap ketidakadilan, pendobrakan terhadap pola pikir yang kolot, serta menyarankan adanya perubahan yang lebih baik.

Hamka berhasil menyelipkan kritik sosialnya tentang ketidakberdayaan manusia pada zaman itu, yang seolah merasa terkekang oleh aturan adat. Bahkan aturan adat itu seolah menjadi sendi-sendi kehidupan yang tidak dapat diganggu gugat. Sampai masalah pernikahan pun, terikat oleh serangkaian aturan adat yang sangat ketat.

Selain kritik sosial yang diutarakan Hamka lewat novelnya, beliau pula memberikan sebuah semangat hidup untuk para pembaca. Melalui tindakan Zainudin sepeninggal Hayati yang telah menikah dengan pria lain. Hamka menyadarkan para pembaca sebuah kenyataan hidup, bahwa manusia hanya dapat berencana pada akhirnya Tuhanlah yang menentukannya. Saat tokoh utama pada novel tersebut tidak ditakdirkan untuk hidup dengan gadis pujaan hatinya. Penulis menyajikan sebuah tindakan tokoh utama tersebut, tentang perjuangan hidup untuk bangkit dalam keterpurukan. Di tengah puing-puing kehancuran hati, Zainudin mencoba bangkit untuk bertahan hidup. Serta mencoba mengumpulkan kepingan harapan untuk terus menjalani hidup. Ia memutuskan untuk merantau ke tanah Jawa. Zainudin terus mengasah potensi yang dimilikinya, lewat kemahirannya dalam menulis. Sampai tibalah kesuksesan menghampirinya.

Hal menarik yang menjadikan novel ini sangat direkomendasikan kepada generasi muda saat ini. Kemampuan Hamka dalam meramu cerita fiksi berbalut dengan budaya dengan menggunakan peristiwa nyata, tentang tenggelamnya kapal Van Der Wijck. Dengan segala konflik yang ada seakan dapat memberikan ruh pada novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Hal ini yang mengakibatkan novel tersebut menarik, untuk dinikmati oleh para pembaca bahkan lintas generasi. Serta kemampuan penulis menyelipkan pesan moral dan kritik sosial pada novel ini tersampaikan secara halus. Hamka berhasil membuat karya sastra yang baik. Di mana karya sastra ini mampu memberikan pencerahan, pemahaman, semangat perubahan, dan menambah wawasan baru bagi pembaca.

Sejatinya karya sastra dapat menjadi cara untuk mengkritik terjadinya ketimpangan-ketimpangan sosial, bahkan segala sesuatu yang tak lagi ideal dan tak lagi relevan. Melalui karya sastra seakan menjadi sebuah jembatan waktu, tentang berbagai peristiwa yang terjadi pada kehidupan manusia dari zaman ke zaman. Yang dapat diketahui oleh generasi selanjutnya dengan cara membacanya, mengapresiasikannya, dan mengambil hikmah yang terkandung di dalamnya. Sehingga diharapkan ada sebuah perubahan tentang sikap dan perilaku manusia, menuju kepada hal yang lebih baik dari waktu ke waktu.